Jumat, 25 November 2011

Dunia Fana...

Siapa yang berani membanggakan hidupnya?
bangga akan uangkah…
bangga akan harta benda…
bangga akan status…
bangga akan kecantikan dan kemolekannya…
dan bangga akan hal duniawi lainnya..
silahkanlah berbangga hati…
karena ngengat dan karat akan memusnahkan semua kebanggaan itu,
hidup di dunia hanyalah mampir,
mampir makan,
mampir minum,
mampir beristirahat…
dan hanya dalam hitungan tahun,
jarang bukan ada manusia modern ini sekarang ini yang bisa bertahan hidup hingga dua abad…
karena setelah itu semakin rentalah badan fisik kita ini
dan hancurlah badan kita yang rapuh ini..
maka ingatlah akan ada hidup sesudah mati…
kehidupan kekal di alam sana…
ingatlah selalu kita Akan sang PenCIPTA…(Ais Z, diambil dari Kompasiana)

Pelatihan Memandikan Jenazah

Beberapa bulan yang lalu, PKPU melakkan pelatihan memandikan jenazah yang bertempat di Masjid Al Ikhlash Kp banjir kanal RT 008 RW 01 Grogol Jakarta Barat, PKPU melaksanakan program Latahzan dalam bentuk pelatihan memandikan jenazah. Program ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian PKPU terhadap persoalan di tengah masyarakat, salah satunya adalah kurangnya jumlah anggota masyarakat yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam memandikan jenazah di suatu wilayah.

Sehingga ketika ada yang meninggal di wilayah tersebut warga masyarakat kesulitan untuk mengurusnya karena yang memandikan tak ada di wilayah mereka sehingga harus mencari di wilayah lain. Hal ini cukup menyita waktu, sehingga jenazah tidak terurus secepatnya, dengan pelatihan ini diharap dapat menyelesaikan persoalan itu.

Acara pelatihan memandikan jenazah dihadiri tokoh masyarakat Kelurahan Grogol serta ketua RW 01 Kp banjir kanal Grogol Jakarta Barat.  Dalam sambutannya, ketua RW 01 Kp banjir kanal mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada PKPU serta relawan yang terlibat

Beliau berharap setelah mereka dilatih dapat melanjutkan program ini dengan mengajarkan warga yang lain dilingkungan sekitar tempat tinggal mereka. Bila perlu di masing-masing rukun tetangga ada tim memandikan jenazah baik laki-laki maupun perempuan.

Pelatihan dilanjutkan dengan ceramah dan praktek memandikan dan mengkafani jenazah yang disampaikan ustadz Ade Hartono yang sejak 1994 telah mempelajari dan melakukan memandikan jenazah. Ustadz Ade Hartono tinggal di wilayah Jatisari, Jatiasih Kota Bekasi, dan masyarakat sekitar telah mengenalnya karena memiliki pengalaman cukup banyak dalam memandikan jenazah. Kegiatan seperti ini sangat perlu FKMGCC lakukan agar para pengurus FKMGCC tidak canggung lagi dalam melaksanakan proses penanganan jenazah dan yang juga penting adalah proses edukasi masyarkaat harus dilakukan dengan baik khususnya yang berkaitan dengan penanganan jenazah. (Ais Z dari PKPU).

Rabu, 23 November 2011

Mempersiapkan Kematian


"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (ali Imran: 185.)

Ayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan bagi setiap yang berjiwa. Allah mentakdirkannya sebagai sarana perpindahan ke alam barzah, dan untuk seterusnya ke alam akhirat.

Dari sisi ini, membicarakan tentang kematian, sebenarnya membicarakan tentang hal lumrah yang pasti akan terjadi. Tapi, masalahnya tidak sesederhana itu. Karena kematian juga memiliki akibat-akibat yang mengiringinya sebagai konsekwensi berpisahnya ruh dari jasad manusia.

Akibat-akibat yang secara umum tidak diharapkan manusia, karena melahirkan sejumlah ketakutan. Sehingga pembicaraan tentang kematian seringkali dihindari manusia.


Mengapa Takut Mati
Menurut Syaikh Utsaimin, takut (khauf) adalah rasa gelisah yang muncul sebagai reaksi kekhawatiran akan tertimpa sesuatu yang menghancurkan, membahayakan atau menyakitkan. Sehingga, ketakutan manusia akan sesuatu ditentukan oleh ilmu yang dia miliki. Apa yang menurutnya akan merugikan, menghancurkan, membahayakan dan menyakitkan, tentunya akan membuatnya takut jika menimpanya.

Sebaliknya, apa yang diketahuinya tidak akan memberinya bahaya apa-apa, tentu tidak membuatnya takut. Apalagi hal-hal yang akan mendatangkan kebaikan, kesenangan, atau manfaat baginya.

Pun demikian halnya dengan kematian. Dia tetap akan melahirkan rasa takut, baik bagi hamba yang beriman maupun hamba yang ingkar, meski dengan perbedaan alasan, menurut kadar ilmu masing-masing. Karena ada kesakitan, kehancuran, kerugian dan bahaya yang mengiringinya.

Bagi hamba yang beriman, kematian adalah hakim yang akan menguak rahasia amal ibadahnya secara nyata di akhirat nanti.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 175, "Dan takutlah kepadaKu, jika kalian benar-benar orang yang beriman". Dia takut kalau ternyata bekal yang dipersiapkan selama hidupnya tidak mencukupi untuk menghadap Allah. Amalnya kurang, taubatnya tidak sempurna, sedang dosa-dosanya membuih selautan. Kecuali hamba yang dirahmati Allah.

Seperti al A’mas saat berkata kepada anak-anaknya yang menangisinya menjelang ajal, "Janganlah kalian menangisi aku! Sebab demi Allah, aku tidak pernah tertinggal takbiratul ihram bersama imam selama 60 tahun."

Pemutus Kenikmatan
Namun, bagi manusia yang ingkar, kematian tentulah sangat menakutkan karena ia merupakan puncak kehancuran hidup dengan segala mimpi-mimpi indah di dalamnya. Dialah pemutus segala kenikmatan hidup yang telah susah payah dikejarnya.

Inilah yang membuatnya menolak datangnya kematian sekuat tenaga. Karenanya dia ingin menghindar, sebab cintanya pada dunia yang sangat besar dan penolakannya terhadap akhirat, membuatnya tidak mau berpisah dengan kelezatan yang telah dirasakannya. Dia lupa bahwa semakin dia berusaha menolak, semakin ketakutan itu akan menyiksanya.

Tidak Menakutkan
Sebenarnya, rasa takut yang ada pada diri kita mempunyai dampak positif yang luar biasa, selama bisa dikelola dengan baik. Sebab, rasa ini akan mendorong kita untuk menjaga diri dari berbagai hal yang akan merugikan, sehingga kita bisa mengambil langkah-langkah antisipatif yang diperlukan. Dan pada gilirannya hal yang menakutkan itu datang, kita telah siap menghadapinya.

Melakukan Persiapan
Maka, cara membuat kematian menjadi tidak menakutkan bagi kita, tentulah dengan meyakinkan diri, bahwa kita telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Persiapan-persiapan inilah yang akan mencerahkan jiwa serta memberikan perasaan aman, sebab kita telah ‘berbuat’ sesuatu.

Di antara hal-hal yang bisa kita kerjakan adalah mengingat dan menyadari bahwa kematian pasti akan kita hadapi, sedang kita tidak tahu kapan waktunya. Bisa 20 tahun atau 10 tahun lagi, tahun depan, bulan depan, minggu depan, besok pagi atau malah hari ini!

Kewaspadaan bahwa inilah kesempatan terakhir yang ada, akan membuat kita menjadi aktif berbuat amal shalih tanpa menunda-nunda lagi. Kalaulah betul kematian kita masih lama datangnya, tentulah bukan hal yang salah jika kita mempersiapkan bekal lebih banyak dari sekarang.

Inti dari cara mendapatkan kesadaran ini adalah dengan senantiasa mengingat kematian. Bisa dengan ziarah kubur sebagaimana disabdakan baginda Rasulullah seraya menangis saat berziarah ke kubur ibunda beliau, "Ziarahilah kubur, sebab ia akan mengingatkan kalian pada kematian." HR. Muslim.

Dengannya hati akan bergetar, air mata akan meleleh, mengingat akhirat. Kita menjadi ingat bahwa kematian adalah penghancur kelezatan dunia, yang karenanya Rasulullah memerintahkan kita agar memperbanyak mengingat mati.

Bisa juga dengan bergaul bersama hamba-hamba yang shalih. Mengambil manfaat dari ilmu, amal dan bashirah yang mereka miliki. Kita bisa datang mengunjungi mereka, mendengarkan petuah dan nasihat mereka, menghadiri majelis-majelis keilmuan mereka, atau mendoakan mereka.

Bisa juga dengan datang dan menghadiri orang-orang yang sedang sakaratul maut. Apalagi mereka yang su’ul khatimah, padahal mereka adalah manusia-manusia ‘kuat’ di masa lalu. Insya Allah akan memberikan dampak positif yang besar bagi jiwa kita. Kecuali hati kita telah benar-benar mati.

Jangan Tinggalkan al Qur’an
Membaca seraya merenungi (tadabbur) ayat-ayat Al Qur’an, harus pula kita lakukan. Harus ada waktu khusus yang kita sediakan. Kadang, waktu untuk membaca bacaan-bacaan yang lain malah lebih menyita waktu kita.

Membaca dan menghayati isi Al Qur’an, pasti akan memberi ‘sesuatu’ yang lain, sebab bagaimanapun ia adalah firman Allah. Seperti pernyataan seorang shalih, "Aku membaca berbagai nasihat dan pelajaran, namun aku tidak menemukan sebagaimana tadabbur al Qur’an."

Rasulullah juga telah bersabda,
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)


Panjang Angan-angan
Pernah Rasulullah ditanya seorang shahabat yang ingin masuk jannah. Beliau menjawab, "Pendekkanlah angan-angan, buatlah ajal ada di depan mata kalian, dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya!" (HR. Ibnu Abid Dunya). Hal ini bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita tinggi dan besar. Hanyasaja, semua itu harus disertai keyakinan akan datangnya kematian yang tiba-tiba. Agar proses pencapaiannya dilalui lewat tahapan yang bertanggung jawab.

Angan-angan panjang disertai cinta dunia dan kebodohan, hanya akan membuat kita lupa akhirat. Mengira masih ada waktu, sedang yang kita punya mungkin lebih pendek dari itu. Kita ­semoga­ bukanlah seperti al Mu’tashim yang pernah berkata, "Demi Allah, andai aku tahu akan mati hari ini, niscaya aku tidak akan melakukan maksiyat."

Tapi jangan pula menjadi pemberani tanpa ilmu, berani mati konyol untuk alasan-alasan yang remeh temeh dan sepele, seperti banyak kita lihat di sekitar kita saat ini. Kebodohanlah yang membuat mereka senekat itu. Sedang Rasulullah menjelaskan andai kita tahu apa yang beliau ketahui, niscaya kita akan sedikit tertawa, banyak menangis dan tunduk kepada-Nya.

Menyiapkan Bekal
Yang tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan bekal dengan memperbanyak mengerjakan amal ibadah, menyegerakan taubat dan tidak meremehkan dosa-dosa kecil. Dalam hal ini kita harus menyeimbangkan antara khauf (rasa takut) dan raja’ (mengharap), agar memperoleh paduan khauf dan raja’ yang proposional dan rasional. Khauf yang menjadi energi untuk menghindarkan diri dari kerugian abadi di akhirat kelak.

Tidak berat sebelah sehingga merugikan. Ketiadaan khauf menyebabkan kita meremehkan persiapan menghadapi kematian, sedang bila berlebihan, malah membuat putus asa. Pun demikian halnya dengan raja’. Bila berlebihan justeru membuat kita lalai dari kewajiban.

Akhirnya
Kematian adalah realitas. Sia-sia jika kita ingin menolaknya, sebab kita ‘dipaksa’ mengalaminya. Dengannya mahligai dunia kita akan hancur, kelezatannya sirna dan semua perolehan tanpa iman akan terlecehkan. Tidak ada jalan lain kecuali mempersiapkan diri dengan segera. Wallahu A’lam.(disalin oleh: Ais Z).

Rabu, 31 Agustus 2011

Cara Memperlakukan Jenazah Menurut Islam

Ketika seseorang telah menghembuskan napasnya yang terakhir maka ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang-orang yang hadir pada saat itu :
1.  Memejamkan kedua mata mayit (jika masih terbuka) dan mendoakan kebaikan baginya
Dasarnya ialah hadits Ummu Salamah, tatkala Abu Salamah wafat maka Rasulullah pun memejamkan kedua matanya yang saat itu masih terbuka. Beliau juga mendoakannya dengan doa “Ya Alloh, berilah ampunan bagi Abu Salamah, angkatlah derajatnya ke dalam orang-orang yang diberi petunjuk, jadikanlah orang yang ia tinggalkan dari kalangan keluarganya dan anak keturunannya pemimpin yang sholih dalam agama dan dunia mereka, ampunilah kami dan dia ya Robbal’alamin, lapangkanlah dan terangilah kuburannya”  (HR muslim dan Abu Daud)
2. Menutup semua anggota badannya (kecuali jenajah orang yang ihram, kepalanya tidak ditutup) dengan kain atau yang semisalnya
Aisyah mengatakan : “Bahwasanya ketika Rasulullah wafat beliau pun diselimuti dengan burdah habirah (kain yang bergaris-garis)”. (HR Bukhari dan Muslim)
3. Bersegera dalam mengurusinya
4. Bersegera melunasi hutang mayit walau harus menghabiskan semua hartanya
5. Memenuhi wasiatnya
Orang yang diwasiati oleh si mayit semasa hidupnya, hendaknya menunaikan wasiat yang telah diamanahkan itu, selama wasiat tersebut tidak menyelisihi syariat. Dalam masalah harta, wasiat yang diperbolehkan tidak melebihi sepertiga dari harta yang ia miliki.

Apa Saja Yang Boleh Dilakukan Terhadap Mayit
Dibolehkan bagi para pelayat untuk membuka tutup muka mayit dan menciumnya (wajah)-nya, sebagaimana hadits yang dibawakan oleh Aisyah, ia berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW mendatangi jenazah Utsman bin Madz’un maka beliau menyingkap tutup muka Ibnu Madz’un dan beliau merebahkan badan lalu mencium wajahnya, beliau menangis hingga aku melihat air mata menetes pada kedua belah pipi beliau.” (Shahih, HR Ibnu Majah 1456, Abu Daud 3163 dan Tirmidzi 994).
Demikian pula dibolehkan menangis (bukan tangisan histeris yang terlarang dalam syariat) sebagaimana yang terjadi pada Rasulullah ketika putranya (Ibrahim) tercinta meninggal dunia (HR Bukhari)

Proses Memandikan Jenazah
Perkara-perkara yang harus diperhatikan ketika akan memandikan jenazah (sifat dan cara memandikan mayit) :
1.         Hendaknya orang yang akan memandikan mayit adalah orang yang amanah dan dapat dipercaya, yang tidak akan membuka dan menyebarkan aib-aib yang ia jumpai pada mayit. Dan hendaknya ia adalah orang yang memiliki ilmu dan pengalaman dalam memandikan mayit.
2.         Melepas pakaian mayit dan menutup auratnya
3.         Wajib yang akan memandikan mayit adalah orang yang sejenis, mayit wanita tidak dimandikan kecuali oleh para wanita dan mayit laki-laki tidaklah dimandikan kecuali oleh para laki-laki. Kecuali, suami istri dan budak (wanita) terhadap tuannya.
4.         Dibolehkan suami memandikan istrinya, demikian pula sebaliknya (Shahih HR. Ahmad)
5.         Jika mayit wanita dan rambutnya masih terpintal, maka dilepas terlebih dahulu (HR. Bukhari)
6.         Diharamkan mencukur rambut kepala dan bulu kemaluan karena akan memegang aurat si mayit dan tidak pula kumis, dikhitan atau memotong kukunya karena jasad mayit adalah dihormati maka tidak boleh diganggu. Dan tidak lah benar dari Rasulullah SAW dan para sahabat tentang perbuatan diatas.
7.         Memperlakukan mayit dengan lemah lembut (HR Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
8.         Menaruh daun bidara pada air ketika awal-awal pemandian (HR Bukhori dan Muslim)
9.         Hendaknya dimulai dari bagian kanan dan anggota wudhu, setelah didahului niat dan membaca basmalah (HR Bukhori dan Muslim)
10.      Membersihkan kepala secara baik dengan air dan daun bidara atau sabun dan yang semisalnya hingga mengenai dasar tempat tumbuhnya rambut serta menyisirnya dengan lemah lembut.
11.      Membersihkan bagian kanan badan, demikian pula pada bagian kiri
12.      Membolak balik sisi samping agar mudah membersihkan bagian tengkuk, punggung, dan bagian-bagian yang dianggap perlu untuk dibersihkan.
13.      Menyisir dan mengepang rambutnya menjadi tiga kepangan (jika mayit wanita) (HR Bukhori)
14.      Mengulang-ulang pembersihan dan penyiraman jika dianggap perlu, dan disunnahkan ganjil (HR Bukhori dan Muslim)
15.      Menambahkan kafur atau minyak wangi atau semisalnya pada siraman akhir
16.      Hendaknya tidak memegang kemaluan mayit kecuali jika kondisi mendesak
17.      Jika tidak ada air atau takut kalau dimandikan malah merusak tubuhnya (seperti mayit yang terbakar atau semisalnya) maka diganti dengan tayamum, sebab keadaan mendesak. (Ais Z).

Sabtu, 20 Agustus 2011

Mari Mengingat Kematian...


Adakah orang yang menyangkal kematian dan sakaratul maut? Adakah orang yang menyangkal kubur dan azabnya? Adakah orang yang sanggup menunda kematiannya dari waktu yang telah ditentukan? Mengapa manusia takabur padahal kelak akan dimakan ulat? Mengapa manusia melampaui batas padahal di dalam tanah kelak akan terbujur? Mengapa berandai-andai, padahal kita mengetahui kematian akan datang secara tiba-tiba?
 
“Sesungguhnya kematian adalah haq, pasti terjadi, tidak dapat disangkal lagi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS: Qaaf: 19)

Amatlah salah apabila seorang yang mengira bahwa kematian itu hanya ke-fana-an semata dan ketidak-adaan secara total yang tidak ada kehidupan, perhitungan, hari dikumpulkan, kebangkitan, surga atau neraka padanya!! Sebab andaikata demikian, tentulah tidak ada hikmah dari penciptaan dan wujud kita. Tentulah manusia semua sama saja setelah kematian dan dapat beristirahat lega; mukmin dan kafir sama, pembunuh dan terbunuh sama, si penzhalim dan yang terzhalimi sama, pelaku keta’atan dan maksiat sama, penzina dan si rajin shalat sama, pelaku perbuatan keji dan ahli takwa sama.

Pandangan tersebut hanyalah bersumber dari pemahaman kaum atheis yang mereka itu lebih buruk dari binatang sekali pun. Yang mengatakan seperti ini hanyalah orang yang telah tidak punya rasa malu dan menggelari dirinya sebagai orang yang bodoh dan ‘gila.’ (Baca: QS: At-Taghabun:7, QS: Yaasiin: 78-79)
Kematian adalah terputusnya hubungan ruh dengan badan, kemudian ruh berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dan seluruh lembaran amal ditutup, pintu taubat dan pemberian tempo pun terputus.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Alloh menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat.” (HR: At-Turmu-dzi dan Ibn Majah, dishahihkan Al-Hakim dan Ibn Hibban)

Kematian Merupakan Musibah Paling Besar!!
Kematian merupakan musibah paling besar, karena itu Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menamakannya dengan ‘musibah maut’ (QS: Al-Maidah:106). Bila seorang hamba ahli keta’atan didatangi maut, ia menyesal mengapa tidak menambah amalan shalihnya, sedangkan bila seorang hamba ahli maksiat didatangi maut, ia menyesali atas perbuatan melampaui batas yang dilakukannya dan berkeinginan dapat dikembalikan ke dunia lagi, sehingga dapat bertaubat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan memulai amal shalih. Namun! Itu semua adalah mustahil dan tidak akan terjadi!! (Baca: QS: Fushshilat: 24, QS: Al-Mu’minun: 99-100)

Ingatlah Penghancur Segala Kenikmatan!!
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar banyak mengingat kematian. Beliau bersabda, yang artinya: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut)” (HR: At-Tirmidzi, hasan menurutnya). Imam Al-Qurthubi rahimahulloh berkata, “Para ulama kita mengatakan, ucapan beliau, “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan”, merupakan ucapan ringkas tapi padat, menghimpun makna peringatan dan amat mendalam penyampaian wejangannya. Sebab, orang yang benar-benar mengingat kematian, pasti akan mengurangi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, mencegahnya untuk bercita-cita mendapatkannya di masa yang akan datang serta membuatnya menghindar dari mengangankannya, sekalipun hal itu masih memungkinkannya.

Namun jiwa yang beku dan hati yang lalai selalu memerlukan wejangan yang lebih lama dari para penyuluh dan untaian kata-kata yang meluluhkan sebab bila tidak, sebenarnya ucapan beliau tersebut dan firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ali ‘Imran ayat 185, (artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”) sudah cukup bagi pendengar dan pemerhati-nya.!!”

Siapa Orang Yang Paling Cerdik?
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Alloh, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)

Faedah Mengingat Kematian

Di antara faedah mengingat kematian adalah:
  • Mendorong diri untuk bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya.
  • Memperpendek angan-angan untuk berlama-lama tinggal di dunia yang fana ini, karena panjang angan-angan merupakan sebab paling besar lahirnya kelalaian.
  • Menjauhkan diri dari cinta dunia dan rela dengan yang sedikit.
  • Menyugesti keinginan pada akhirat dan mengajak untuk berbuat ta’at.
  • Meringankan seorang hamba dalam menghadapi cobaan dunia.
  • Mencegah kerakusan dan ketamak-an terhadap kenikmatan duniawi.
  • Mendorong untuk bertaubat dan mengevaluasi kesalahan masa lalu.
  • Melunakkan hati, membuat mata menangis, memotivasi keinginan mempelajari agama dan mengusir keinginan hawa nafsu.
  • Mengajak bersikap rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, dan berlaku zhalim.
  • Mendorong sikap toleransi, me-ma’afkan teman dan menerima alasan orang lain.
    (Ais Z).

Jumat, 19 Agustus 2011

Kewajiban Muslim kepada Allah


  1. Mengerjakan rukun Islam yang lima
  2. Menerima ketentuan Allah dengan ridho, baik ketentuan yang brsifat kauni/qodho dan qodhar (2:156) atau ketentuan hokum-hukum/undang-undang (4:65)
  3. Ikhlas (98:5/39:2-3)
  4. Sabar (3:200)
  5. Selalu merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya (2:235/33:52/50:18)
  6. Mencintai Allah dan rosulNya (9:24)
  7. Wara’
  8. Mengharapkan rakhmatNya (2:218)
  9. Tawakkal (14:12)
  10. Meyakini pertolongan Allah (26:62)
  11. Selalu menyertakan niat jihad dalam setiap aktivitas (sabda rosul)
  12. Selalu memperbarui taubat dan istighfar (3:185)
  13. Mempersiapkan diri untuk hari akhirat dan selalu mengingat mati (3:185)
  14. Selalu mengintrospeksi diri (Ais Z).