"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada
hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."
(ali Imran: 185.)
Ayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa kematian adalah sebuah
keniscayaan bagi setiap yang berjiwa. Allah mentakdirkannya sebagai
sarana perpindahan ke alam barzah, dan untuk seterusnya ke alam akhirat.
Dari sisi ini, membicarakan tentang kematian, sebenarnya membicarakan
tentang hal lumrah yang pasti akan terjadi. Tapi, masalahnya tidak
sesederhana itu. Karena kematian juga memiliki akibat-akibat yang
mengiringinya sebagai konsekwensi berpisahnya ruh dari jasad manusia.
Akibat-akibat yang secara umum tidak diharapkan manusia, karena
melahirkan sejumlah ketakutan. Sehingga pembicaraan tentang kematian
seringkali dihindari manusia.
Mengapa Takut Mati
Menurut Syaikh Utsaimin, takut (khauf) adalah rasa gelisah yang muncul
sebagai reaksi kekhawatiran akan tertimpa sesuatu yang menghancurkan,
membahayakan atau menyakitkan. Sehingga, ketakutan manusia akan sesuatu ditentukan oleh ilmu yang dia
miliki. Apa yang menurutnya akan merugikan, menghancurkan, membahayakan
dan menyakitkan, tentunya akan membuatnya takut jika menimpanya.
Sebaliknya, apa yang diketahuinya tidak akan memberinya bahaya apa-apa,
tentu tidak membuatnya takut. Apalagi hal-hal yang akan mendatangkan
kebaikan, kesenangan, atau manfaat baginya.
Pun demikian halnya dengan kematian. Dia tetap akan melahirkan rasa
takut, baik bagi hamba yang beriman maupun hamba yang ingkar, meski
dengan perbedaan alasan, menurut kadar ilmu masing-masing. Karena ada
kesakitan, kehancuran, kerugian dan bahaya yang mengiringinya.
Bagi hamba yang beriman, kematian adalah hakim yang akan menguak rahasia amal ibadahnya secara nyata di akhirat nanti.
Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 175, "Dan takutlah kepadaKu, jika kalian benar-benar orang yang beriman". Dia takut kalau ternyata bekal yang dipersiapkan selama hidupnya tidak
mencukupi untuk menghadap Allah. Amalnya kurang, taubatnya tidak
sempurna, sedang dosa-dosanya membuih selautan. Kecuali hamba yang
dirahmati Allah.
Seperti al A’mas saat berkata kepada anak-anaknya yang menangisinya
menjelang ajal, "Janganlah kalian menangisi aku! Sebab demi Allah, aku
tidak pernah tertinggal takbiratul ihram bersama imam selama 60 tahun."
Pemutus Kenikmatan
Namun, bagi manusia yang ingkar, kematian tentulah sangat menakutkan
karena ia merupakan puncak kehancuran hidup dengan segala mimpi-mimpi
indah di dalamnya. Dialah pemutus segala kenikmatan hidup yang telah
susah payah dikejarnya.
Inilah yang membuatnya menolak datangnya kematian sekuat tenaga.
Karenanya dia ingin menghindar, sebab cintanya pada dunia yang sangat
besar dan penolakannya terhadap akhirat, membuatnya tidak mau berpisah
dengan kelezatan yang telah dirasakannya. Dia lupa bahwa semakin dia berusaha menolak, semakin ketakutan itu akan menyiksanya.
Tidak Menakutkan
Sebenarnya, rasa takut yang ada pada diri kita mempunyai dampak positif yang luar biasa, selama bisa dikelola dengan baik. Sebab, rasa ini akan mendorong kita untuk menjaga diri dari berbagai hal
yang akan merugikan, sehingga kita bisa mengambil langkah-langkah
antisipatif yang diperlukan. Dan pada gilirannya hal yang menakutkan itu
datang, kita telah siap menghadapinya.
Melakukan Persiapan
Maka, cara membuat kematian menjadi tidak menakutkan bagi kita, tentulah
dengan meyakinkan diri, bahwa kita telah mempersiapkan diri dengan
sebaik-baiknya. Persiapan-persiapan inilah yang akan mencerahkan jiwa
serta memberikan perasaan aman, sebab kita telah ‘berbuat’ sesuatu.
Di antara hal-hal yang bisa kita kerjakan adalah mengingat dan menyadari
bahwa kematian pasti akan kita hadapi, sedang kita tidak tahu kapan
waktunya. Bisa 20 tahun atau 10 tahun lagi, tahun depan, bulan depan,
minggu depan, besok pagi atau malah hari ini!
Kewaspadaan bahwa inilah kesempatan terakhir yang ada, akan membuat kita
menjadi aktif berbuat amal shalih tanpa menunda-nunda lagi. Kalaulah
betul kematian kita masih lama datangnya, tentulah bukan hal yang salah
jika kita mempersiapkan bekal lebih banyak dari sekarang.
Inti dari cara mendapatkan kesadaran ini adalah dengan senantiasa
mengingat kematian. Bisa dengan ziarah kubur sebagaimana disabdakan
baginda Rasulullah seraya menangis saat berziarah ke kubur ibunda
beliau, "Ziarahilah kubur, sebab ia akan mengingatkan kalian pada kematian." HR. Muslim.
Dengannya hati akan bergetar, air mata akan meleleh, mengingat akhirat.
Kita menjadi ingat bahwa kematian adalah penghancur kelezatan dunia,
yang karenanya Rasulullah memerintahkan kita agar memperbanyak mengingat
mati.
Bisa juga dengan bergaul bersama hamba-hamba yang shalih. Mengambil
manfaat dari ilmu, amal dan bashirah yang mereka miliki. Kita bisa
datang mengunjungi mereka, mendengarkan petuah dan nasihat mereka,
menghadiri majelis-majelis keilmuan mereka, atau mendoakan mereka.
Bisa juga dengan datang dan menghadiri orang-orang yang sedang sakaratul
maut. Apalagi mereka yang su’ul khatimah, padahal mereka adalah
manusia-manusia ‘kuat’ di masa lalu. Insya Allah akan memberikan dampak
positif yang besar bagi jiwa kita. Kecuali hati kita telah benar-benar
mati.
Jangan Tinggalkan al Qur’an
Membaca seraya merenungi (tadabbur) ayat-ayat Al Qur’an, harus pula kita
lakukan. Harus ada waktu khusus yang kita sediakan. Kadang, waktu untuk
membaca bacaan-bacaan yang lain malah lebih menyita waktu kita.
Membaca dan menghayati isi Al Qur’an, pasti akan memberi ‘sesuatu’ yang
lain, sebab bagaimanapun ia adalah firman Allah. Seperti pernyataan
seorang shalih, "Aku membaca berbagai nasihat dan pelajaran, namun aku
tidak menemukan sebagaimana tadabbur al Qur’an."
Rasulullah juga telah bersabda,
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Panjang Angan-angan
Pernah Rasulullah ditanya seorang shahabat yang ingin masuk jannah.
Beliau menjawab, "Pendekkanlah angan-angan, buatlah ajal ada di depan
mata kalian, dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya!" (HR.
Ibnu Abid Dunya). Hal ini bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita tinggi dan besar.
Hanyasaja, semua itu harus disertai keyakinan akan datangnya kematian
yang tiba-tiba. Agar proses pencapaiannya dilalui lewat tahapan yang
bertanggung jawab.
Angan-angan panjang disertai cinta dunia dan kebodohan, hanya akan
membuat kita lupa akhirat. Mengira masih ada waktu, sedang yang kita
punya mungkin lebih pendek dari itu.
Kita semoga bukanlah seperti al Mu’tashim yang pernah berkata, "Demi
Allah, andai aku tahu akan mati hari ini, niscaya aku tidak akan
melakukan maksiyat."
Tapi jangan pula menjadi pemberani tanpa ilmu, berani mati konyol untuk
alasan-alasan yang remeh temeh dan sepele, seperti banyak kita lihat di
sekitar kita saat ini. Kebodohanlah yang membuat mereka senekat itu. Sedang Rasulullah
menjelaskan andai kita tahu apa yang beliau ketahui, niscaya kita akan
sedikit tertawa, banyak menangis dan tunduk kepada-Nya.
Menyiapkan Bekal
Yang tidak kalah pentingnya adalah mempersiapkan bekal dengan
memperbanyak mengerjakan amal ibadah, menyegerakan taubat dan tidak
meremehkan dosa-dosa kecil. Dalam hal ini kita harus menyeimbangkan antara khauf (rasa takut) dan
raja’ (mengharap), agar memperoleh paduan khauf dan raja’ yang
proposional dan rasional. Khauf yang menjadi energi untuk menghindarkan
diri dari kerugian abadi di akhirat kelak.
Tidak berat sebelah sehingga merugikan. Ketiadaan khauf menyebabkan kita
meremehkan persiapan menghadapi kematian, sedang bila berlebihan, malah
membuat putus asa. Pun demikian halnya dengan raja’. Bila berlebihan
justeru membuat kita lalai dari kewajiban.
Akhirnya
Kematian adalah realitas. Sia-sia jika kita ingin menolaknya, sebab kita
‘dipaksa’ mengalaminya. Dengannya mahligai dunia kita akan hancur,
kelezatannya sirna dan semua perolehan tanpa iman akan terlecehkan.
Tidak ada jalan lain kecuali mempersiapkan diri dengan segera. Wallahu
A’lam.(disalin oleh: Ais Z).